ikhlas

Tuesday, February 26, 2019

HSI 9.01 - Pengertian Al Qadha dan Al Qadar


Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh Pengertian Al Qadha & Al Qadar.

Al Qadha & Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.

Al Qadha
Secara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan / menyempurnakan & mewajibkan.

Allāh berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…

“Dan Rabb mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepadaNya” [QS Al-Isra’ 23]
Dan Allāh berfirman:
وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…

“Dan Allāh memutuskan dengan benar”[QS Ghafir 20]
Dan Allāh berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…

“maka apabila kalian menyelesaikan Manasik Haji kalian hendaklah kalian mengingat Allāh, seperti kalian mengingat Bapak² kalian atau lebih banyak” [QS Al-Baqarah 200]
Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allāh putuskan pada makhlukNya baik berupa pengadaan – peniadaan atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allāh sebelumnya.

Al Qadar
Secara bahasa adalah menentukan.

Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau Ajali sudah Allāh tentukan akan terjadi.

Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allāh sejak Ajali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allāh setelah itu berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melajimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain apa yang Allāh tentukan akan dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allāh maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.

Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencangkup makna kata yang lain.

Al Qadha adalah ketentuan Allāh sejak dahulu & keputusanNya demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allāh sejak dahulu & keputusanNya.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy

Monday, January 14, 2019

HSI 8.25 Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul Alaihimussalam


Halaqah yang Ke Dua Puluh Lima dari Silsilah Ilmiyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul Alaihiussalam.

Diantara Buah Beriman kepada Para Rasul Alaihiussalam

① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allāh & perhatian Allāh yang besar terhadap hamba²Nya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka & menjelaskan kepada mereka beribadah kepada Allāh & bagaimana cara beribadah kepada Allāh, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allāh ajja wajalla

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“sungguh Allāh telah memberikan karunia kepada orang² yang beriman ketika Allāh mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat²Nya & membersihkan mereka & mengajarkan kepada mereka Al Kitab & hikmah. Dan sungguh mereka sebelumnya berada didalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)


Thursday, January 3, 2019

HSI 8.24 - Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 22


Halaqah yang Ke Dua Puluh empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 22.

Diantara cara beriman kepada para rasul alaihimus salam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi & Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka

Mereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin & bukan dari kalangan Malaikat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا

”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allāh mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)
Dan Allāh mengatakan:
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ…

”Dan Kami telah memberikan Ishak & juga Yakub kepada Ibrahim & kami jadikan kenabian & kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut :27)

HSI 8.23 - Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 21


Halaqah yang Ke Dua Puluh tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 21.

Setelah kita memahami mukjizat, Al Karomah & Al Akhwal assyaithoniyyah dan yang berkaitan dengannya maka melanjutkan poin² tentang tata cara beriman kepada para rasul.

Diantara tata cara beriman kepada para rasul alaihimus salam adalah beriman dengan nama-nama para Nabi Rasul yang Allāh telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am & 7 orang berpisah² didalam surat yang lain. 18 nama didalam surat Al An’am adalah

1. Ibrahim
2. Ishaq
3. Ya’qub
4. Nuh
5. Daud
6. Sulaiman
7. Ayyub
8. Yusuf
9. Musa
10. Harun
11. Zakaria
12. Yahya
13. Isa
14. Ilyas
15. Ismail
16. Al Yasa
17. Yunus
18. Luth

Alaihimus salam (Al An’am 83-86)

Friday, December 28, 2018

HSI 8.22 - Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 20


Halaqah yang Ke Dua Puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 20.

④ Al Karomah menambah keimanan, ketakwaan & kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al Akhwal Asy-Syaithoniyyah menambah kekufuran & kejauhan dari Allāh ajja wajalla.

Didalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’āim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al Khaulani seorang yang shaleh dengan Al Aswad Al Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syaroh bin Al Khaulani ketika Al Aswad bin qois bin dimar Al Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullãh? ”

berkata ABU muslim 
 
“Iya”

kembali Al Amsyi bertanya

"apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullãh? ”

berkata ABU muslim 
 
“aku tidak mendengar”