ikhlas

Tuesday, April 2, 2019

HSI 9.07 - Cara Beriman Dengan Taqdir Allāh Bagian 04


Halaqah yang ke Tujuh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh "Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 4".

Diantara Cara Beriman Dengan Takdir Allāh dengan mengimani tingkatan Takdir yang ke-3 yaitu Masyiiatullah / kehendak Allāh dan yang dimaksud adalah beriman bahwa apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allāh kehendaki maka tidak akan terjadi

Dan apa yang ada dilangit dan di bumi berupa bergeraknya sesuatu atau diam nya sesuatu maka dengan kehendak Allāh dan tidak mungkin terjadi dikerajaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla apa yang tidak dikehendaki-Nya.

Diantara dalilnya dari Alquran adalah firman Allāh:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkara Allāh apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan *JADILAH* Maka jadilah dia” (Ya-Sin 82)
Dan Allāh berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…

“Dan seandainya Rabb mu mungkin menghendaki niscaya akan beriman seluruh yang ada dibumi” (Yunus 99)
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ…

“Katakanlah Ya Allāh yang memiliki kerajaan, Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki & mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki & Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki & menghinakan siapa yang Engkau kehendaki” (Ali ‘Imran 26)
Dan Allāh berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kalian menginginkan kecuali dengan kehendak Allāh Rabb semesta alam” (At-Takwir 29)
Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullãh ﷺ bersabda:
لا يقل أحدُكم : اللهمَّ اغفر لي إن شئتَ ، ارحمني إن شئتَ ، ارزقني إن شئتَ ، وليَعزِمْ مسألتَه ، إنَّهُ يفعلُ ما يشاءُ ، لا مُكْرِهَ لهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan Ya Allāh ampunilah aku jika Engkau menghendaki, sayangilah aku jika engkau menghendaki, berilah aku rezeki apabila engkau menghendaki. Maka hendaklah dia menguatkan permintaan karena Allāh melakukan apa yang dikehendaki tidak ada yang memaksanya”. (HR Bukhari)
Berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah
مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

"Apa yang Engkau kehendaki ya Allāh terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya & apa yang aku kehendaki kalau Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi” (atsar ini dikeluarkan oleh Al Lalikai didalam kitab beliau Syarhu Ushuli Itiqadi Ahli sunnati wal Jamaah Minal kitabi wa Sunnah Wa ijmai shahabat IV-702)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy

HSI 9.06 - Cara Beriman Dengan Taqdir Allāh Bagian 03


Halaqah yang ke enam dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh "Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 3".

Selain beriman dengan penulisan takdir ajali yang mencakup seluruh perkara, maka para ulama menyebutkan bahwa termasuk beriman dengan penulisan takdir adalah Beriman Dengan Beberapa Jenis Penulisan Takdir yang lain. Yang merupakan bagian dari penulisan takdir ajali.

1. Takdir Umri


Yaitu penulisan takdir seseorang diawal umurnya ketika didalam rahim ibunya, ditulis rezeki, ajal, amalan, kesengsaraan dia & kebahagiaan.

Dalilnya adalah hadits Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu anhu, Rasulullãh ﷺ bersabda:
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaanya di perut ibunya selama 40 hari, kemudian didalamnya sebagai segumpal darah selama 40 hari, kemudian didalamnya sebagai segumpal daging selama 40 hari, kemudian diutus seorang Malaikat kemudian meniup nyawa didalamnya & diperintahkan dengan 4 kalimat yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalannya & apakah dia sengsara atau orang yang bahagia”. (HR Bukhari dan Muslim)
2. Takdir Hauli

Yaitu takdir khusus kejadian selama satu tahun ditentukan dimalam Lailatul Qadar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Quran pada malam yang berbarakah, sesungguhnya Kami memberikan peringatan didalamnya di pisahkan seluruh perkara yang kokoh” (Ad-Dukhan 3- 4)
3. Takdir Yaumi

Yaitu pelaksanaan apa yang sudah ditulis pada waktu yang sudah ditentukan, Dalilnya adalah firman Allāh:
.. ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap hari Dia (Allāh) dalam sebuah urusan” (Ar-Rahman 29)
Diantara urusan Allāh adalah mengampuni dosa, menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, memberi & menahan dll. Dan perlu diketahui bahwa Takdir Yaumi, Hauli & Umri tidak keluar dari apa yang sudah tertulis di dalam takdir Ajali.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy

Monday, April 1, 2019

HSI 9.05 - Cara Beriman Dengan Taqdir Allāh Bagian 02


Halaqah yang ke lima dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh "Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 2".

Diantara cara beriman dengan Takdir Allāh adalah dengan mengimani tingkatan Takdir yang kedua, yaitu penulisan Allāh terhadap seluruh Takdir makhluk Nya di dalam Al Lauful Mahfudz, maka tidaklah terjadi sesuatu di alam ini kecuali Allāh telah menulisnya didalam Kitāb tersebut, tidak mungkin apa yang terjadi di alam ini keluar dari apa yang sudah Allāh tuliskan.

Dalil² tentang Beriman Dengan penulisan Allāh terhadap Takdir di dalam Al Lauful Mahfudz dari Alquran diantaranya :

Firman Allāh ajja wajalla:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan Kami telah menulis didalam Kitāb-kitab yang Kami turunkan setelah sebelumnya ditulis didalam Al Dzikir, bahwa Bumi ini diwarisi oleh hamba²Ku yang shaleh” (Al-Anbiya’ 105)
Al Dzikr adalah nama lain dari Al Lauful Mahfudz.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami lah yang menghidupkan orang² yang mati & Kami lah yang menulis apa yang mereka kerjakan & bekas² mereka & segala sesuatu Kami ikhso didalam Kitāb yang jelas” (Ya-Sin 120)
Makna ikhso diantaranya Allāh mengetahuinya menjaganya, menetapkannya didalam Kitāb tersebut.

Yang dimaksud dengan Kitab yang jelas adalah Al Lauful Mahfudz.
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Bukankah kamu mengetahui bahwa Allāh mengetahui apa yang ada di langit & di bumi sesungguhnya yg demikian ada di dalam Kitab, sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allāh” (Al-Hajj 70)
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
… ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ..

“Kami tidak lupakan sesuatu pun didalam Al Lauful Mahfudz” (Al-An’am 38)
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
… ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak terlepas dari pengetahuan Allāh sesuatu sebesar semut kecilpun baik di bumi maupun di langit baik yang lebih kecil daripada itu atau lebih besar kecuali didalam Kitāb yang jelas” (Yunus 61)
Adapun dari Sunnah maka Rasulullãh ﷺ bersabda:
كتب الله مقادير الخلائق قَبْلَ أَنْ يَخُلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allāh menulis Takdir² bagi para makhlukNya lima puluh ribu tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi” (HR Muslim)
Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:
وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan Allāh menulis di dalam Al Dzikr (Al Lauful Mahfudz) segala sesuatu” (HR Bukhori dan Muslim)
Dan Beliau ﷺ bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ و مَقْعَدُهُ الْجَنَّةِ

“Tidak ada diantara kalian kecuali sudah di tulis tempat nya didalam Neraka & tempatnya di dalam surga” (HR Bukhori dan Muslim])
Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy

Thursday, March 28, 2019

HSI 9.04 - Cara Beriman Dengan Taqdir Allāh Bagian 01


Halaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh "Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 1"

Cara Beriman Dengan Takdir Allāh adalah dengan mengimani _marojibul qodar_(tingkatkan² takdir) yang jumlahnya ada empat:

1. Ilmu Allāh yang meliputi segala sesuatu, yang ada & yang tidak ada, yang mungkin terjadi & yang tidak mungkin terjadi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Baqarah 282)
Dan Allāh berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci² ilmu ghoib tidak mengetahuinya kecuali Dia, & Dia mengetahui apa yang ada di daratan & lautan & tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh mengetahuinya & tidak ada satu biji di kegelapan² bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauful Mahfudz) ” ( Al-An’am 59)
Allāh mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi & yang akan terjadi, bahkan Allāh mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.

Allāh berfirman:
… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan seandainya mereka (yaitu orang² kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta” (Al-An’am 28)
Yaitu seandainya orang orang kafir yang di azab di dalam Neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal, dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia niscaya mereka akan kafir kembali.

Dan Allāh mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allāh menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal dan amalan mereka, bergerak dan diam nya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allāh mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam Neraka sebelum Allāh menciptakan mereka, bahkan sebelum mereka diciptakan Allāh mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk Neraka.

Rasulullãh ﷺ bersabda didalam hadits Ibnu Abbas radiallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan :
الله أعلم بـما كـانوا عامليـن

“Allāh lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan beliau ﷺ bersabda :
ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار

“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka” [HR Bukhari dan Muslim]
Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allāh yang telah memberikan hidayah kepada agama Islām ini & Sunnah Rasulullãh ﷺ kemudian istiqomah dalam beriman & beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy

HSI 9.03 - Kedudukan iman dengan takdir


Halaqah yang ketiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh "Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām".

Iman dengan Takdir Allāh memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islām diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:

1. Beriman Dengan Takdir termasuk diantara enam rukun Iman yang harus di Imani & pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpa nya.

2. Beriman yang benar dengan Takdir Allāh yang mencakup dengan beriman Ilmu Allāh penulisanNya, kehendakNya dan PenciptaanNya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allāh didalam Rububiah & sifat-sifatNya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allāh dan pekerjaan Allāh adalah termasuk sifat-sifatNya.

Barangsiapa yang tidak beriman dengan Takdir maka dia bukan seseorang yang meg-Esa-kan Allāh didalam Rububiah Nya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.

Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiah nya dan Uluhiyahnya. Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radiallahu anhuma:
” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .

“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allāh & Beriman dengan Takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas & barangsiapa Mentauhidkan Allāh & mendustakan takdir maka dia telah membatalkan tauhid nya” (atsar ini dikeluarkan Kitab Al Qadar hal 143)
Yang dimaksud dengan Takdir adalah aturan Tauhid yaitu *beriman dengan Takdir menjadikan teratur dan lurus Tauhid seseorang*.

3. Beriman dengan Takdir Allāh adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allāh), barangsiapa yang tidak beriman Takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.

Berkata Zaid Ibnu Aslam :
القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل

“Takdir adalah kemampuan Allāh ajja wajalla barangsiapa yang mendustakan Takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allāh ajja wajalla” (atsar ini dikeluarkan Kitab Al Qadar hal 144)
4. Beriman Dengan Takdir berkaitan dengan hikmah Allāh, Ilmu Nya, Kehendak Nya danPenciptaan Nya. Maka barangsiapa yang mengingkari Takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allāh, Kehendak Nya dan Penciptaan Nya.

5. Beriman yang benar dengan Takdir Allāh akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqoh ² yang terakhir dari Silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan Takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

6. Beriman dengan Takdir adalah aqidah seluruh para Nabi & para pengikut mereka.

Allāh berfirman tentang Nabi Nuh alaihi salam:
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…

“Nuh berkata sesungguhnya Allāh lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaanNya apabila Dia menghendaki… ” (Hud 33)
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihi salam :
… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ismail berkata wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang² yang sabar apabila Allāh menghendaki”. (Ash-Shaffat 102)
Dan Allāh berfirman tentang Nabi Musa alaihi salam:
… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…

“… Musa berkata wahai Rabb ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka & diriku sebelum ini… ” (Al-A’raf 155)
Tiga ayat diatas menunjukkan keimanan para Nabi alaimusallam terhadap Takdir Allāh ajja wajalla.

7. Diantara yg menunjukkan ketinggian, kedudukan Beriman Dengan Takdir di dalam agama Islām bahwa Takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, azab, hidayah, kesesatan dll.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy