ikhlas

Wednesday, February 7, 2018

An-Nawaqidhul Islam 08 : Penjelasan Kaidah Pertama Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 1


بِــسم الله الرحمن الرحيم
آعلم أنّ من أعظم نواقض الإسلام عشرة:


Beliau mengatakan :

“ketahuilah sesungguhnya termasuk Nawāqidhul Islām (pembatal-pembatal keIslaman) yang paling besar ada 10.“


’ilam  آعلم  artinya adalah ketahuilah. Dan kalimat ini digunakan oleh orang arab untuk memberi tahu bahwasanya apa yang akan dia katakan adalah sesuatu yang penting. Dia mengatakan kepada orang yang diajak bicara  آعلم ketahuilah, supaya orang yang mendengar yang diajak bicara memperhatikan & dia sadar bahwasanya dia akan mendengar sesuatu yang sangat penting, sehingga dia mengatakan  آعلم  ketahuilah, karena Allāh menggunakan kalimat ini didalam Al-Qur’an_, diantaranya adalah :



An-Nawaqidhul Islam 07 : Penjelasan Pengantar Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 7


بِــسم الله الرحمن الرحيم
“`”Dengan nama Allāh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ““` Dan beliau memulai kitab beliau dengan Basmallah, meniru didalam Al-Qur’an. “`Dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai Al-Qur’an dengan Basmallah.“` Demikian pula meneladani Rasulullãh ﷺ karena dahulu beliau menulis surat² maka beliau memulai dengan *Basmallah*. Sebagaimana ketika beliau menulis kepada Raja Romawi, Raja Persia & juga yang lain, dan didalam Al-Qur’an ketika Nabi Sulaiman ‘alaihi salam mengirim surat kepada Bilqis, beliau memulai dengan Basmallah


إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
 

“kata Ratu Bilqis ini adalah dari Sulaiman dan isinya  بِــسم الله الرحمن الرحيم ”
[QS An-Naml 30]“`


Memulai sebuah risalah memulai sebuah kitab dengan Basmallah maka ini meniru apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan juga dilakukan oleh sebagian Nabi demikian pula dilakukan Rasulullãh ﷺ. Makna memulai dengan Basmallah maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Allāh.Karena  ب didalam ucapan bismillah ini adalah  ب al istianah (yang maknanya istianah). Istianah artinya memohon pertolongan.

Monday, February 5, 2018

An-Nawaqidhul Islam 06 : Penjelasan Pengantar Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 6


“`Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām VI“`
Tidak semua orang yang mengucapkan ucapan kekufuran atau mengatakan amalan yang kufur kemudian dihukumi sebagai orang yang musyrik atau kafir, karena ada syarat-syarat diantaranya disebutkan oleh para ulama :


“`Orang yang mengatakan itu adalah orang yang baligh / berakal.“`


Apabila dia belum baligh / anak kecil (misalnya) mengatakan “aku adalah Tuhan” ucapan dia adalah ucapan kufur & tidak diragukan, ini adalah ucapan kufur tapi karena mengucapkan seorang anak kecil yang belum baligh maka tidak dihukumi dia sebagai orang yang kafir.

An-Nawaqidhul Islam 05 : Penjelasan Pengantar Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 5


Mengetahui An-Nawāqidhul Islām adalah perkara yang sangat penting. Tentunya didalam memahami Nawāqidhul Islām seseorang harus kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits-hadits nabi ﷺ & kembali kepada pemahaman shahabat radhiallahu anhum & menengok kembali ucapan² para ulama didalam masalah Nawāqidhul Islām, karena mengatakan sesuatu mengeluarkan seseorang dari Islām atau tidak ini adalah termasuk hukum syari’

Termasuk hukum syar’i tidak boleh seseorang mengatakan sebuah amalan atau sebuah ucapan atau sebuah keyakinan “ini adalah kufur – ini adalah syirik – ini adalah infaq” kecuali apabila disana ada dalil yang jelas didalam Al-Qur’an ataupun didalam hadits, jangan sampai seseorang mengucapkan sesuatu atas nama Allāh dengan kedustaan, karena ini adalah perbuatan yang besar. Mengucapkan sesuatu atas nama Allāh padahal tidak pernah dikabarkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & juga RasulNya 


وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Thursday, February 1, 2018

An-Nawaqidhul Islam 04 : Penjelasan Pengantar Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 4


Mempelajari An-Nawāqidhul Islām adalah perkara yang sangat penting Hudzaifah Ibn Yaman (beliau) mengatakan 

كَانَ أصحاب رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُوْنَه عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
 

“Dahulu para sahabat Rasulullãh ﷺ, mereka bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kejelekan

مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

karena aku takut apabila terjerumus didalam kejelekan tersebut ”

[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]